26 Mei 2026 19:35

Dinkes Sumsel Intensifkan Pendataan Kasus Bibir Sumbing di Daerah Pinggiran

Dinkes Sumsel Intensifkan Pendataan Kasus Bibir Sumbing di Daerah Pinggiran

Kaganga.com PALEMBANG — Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan mulai memperketat pendataan dan pengawasan kasus celah bibir serta langit-langit pada bayi, terutama di wilayah pelosok, menyusul tingginya angka temuan kasus bibir sumbing di Sumsel yang disebut tertinggi kedua di Indonesia.

Penguatan pengawasan dilakukan melalui koordinasi langsung dengan kabupaten dan kota, termasuk penyisiran kasus hingga daerah pinggiran serta pelaksanaan bakti sosial operasi bibir sumbing secara berkala.

“Untuk operasi bibir sumbing, setiap tahun kami mengirim surat ke kabupaten dan kota,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Selatan, Trisnawarman, Selasa (26/5/2026).

Trisnawarman mengatakan pelaksanaan penanganan ini merupakan perwujudan langsung dari kebijakan kepala daerah dalam merespons tingginya temuan kelainan fisik tersebut di lapangan.

Pihak provinsi kini mengambil alih pengawasan secara lebih ketat guna memastikan koordinasi berjalan optimal di tingkat daerah.

“Arahan Pak Gubernur juga sudah kami laksanakan untuk menyisir kasus-kasus di kabupaten/kota,” katanya.

Menurutnya, selama ini mekanisme penjaringan data di tingkat daerah dirasa masih memerlukan langkah intervensi langsung dari tim provinsi.

Evaluasi terhadap pola komunikasi birokrasi terus dilakukan agar tidak ada penderita di area pelosok yang luput dari penanganan medis.

“Kadang-kadang kabupaten/kota hanya meneruskan surat, sehingga nanti kami akan lebih konsen meminta pendataan yang lebih detail,” imbuhnya.

Langkah pengumpulan data secara rinci ini dinilai sangat mendesak demi memutus rantai penumpukan kasus di tengah masyarakat.

Terlebih lagi, akumulasi temuan kasus kelainan di wilayah Sumatera Selatan secara nasional tergolong sangat tinggi.

“Karena berdasarkan laporan, Sumatera Selatan merupakan daerah dengan angka bibir sumbing tertinggi kedua di Indonesia,” ungkapnya.

Terkait indikator pemicu kelainan, ia menjelaskan ada beragam faktor medis yang melatarbelakangi munculnya kasus celah bibir pada bayi baru lahir.

Faktor-faktor tersebut meliputi kondisi internal silsilah keluarga hingga pengaruh eksternal lingkungan saat masa mengandung.

“Penyebab bibir sumbing bisa karena faktor genetik dan juga bisa akibat penggunaan obat-obatan saat hamil,” jelasnya.

Tidak hanya sebatas masalah konsumsi obat, potensi gangguan tumbuh kembang janin juga dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sekitar sang ibu selama masa kehamilan.

“Selain itu, paparan zat berbahaya menjadi salah satu poin yang harus diantisipasi sejak dini,” tuturnya.

Kemudian, pola penanganan di area urban cenderung jauh lebih responsif. Kesadaran masyarakat dan kelengkapan fasilitas medis membuat tindakan operasi dapat segera dijadwalkan secara berkala.

“Karakteristik akses layanan kesehatan menjadi faktor pembeda kecepatan penanganan pasien. Kalau di kota biasanya pasien lebih cepat ditangani dan langsung menjalani operasi,” tambahnya.

Berdasarkan pemetaan geografis oleh Dinkes Sumsel, sebaran penderita kelainan ini menunjukkan ketimpangan yang cukup signifikan antara wilayah perkotaan dan wilayah pelosok.

“Kalau di Sumatera Selatan, kasus banyak ditemukan di daerah pinggiran seperti OKI,” lanjutnya.

Penulis : Reza Mardiansyah
Editor : Elly

Tag : Pemprov Sumsel DInkes Sumsel

Komentar